Melakukan Kajian Analisis Sosial Terhadap Perdagangan di Pasar Raya Kota Padang



Oleh (Alumnus Peserta LK.1 HMI Komisariat Adab UIN IB PADANG)


Perdagangan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang mampu bersaing dalam bidang perdagangan di masa yang akan datang, adalah perdagangan yang mampu mengembangkan produktifitas perdagangan.

Sehingga pedagang bisa menghadapi  dan memecahkan masalah perdagangan yang diakibatkan kurangnya perhatian dari Pemerintah dalam suatu sistem perdagangan. Perdagangan merupakan jantung dari perekonomian di indonesia khusunya di kota padang.

Secara umum sistem perdagangan merupakan suatu sistem yang memiliki kegiatan yang cukup komplek, yang meliputi komponen yang berkaitan satu dengan yang lainnya, berbagai komponen yang terlibat dalam sistem perdagangan perlu dikenali agar perdagangan menjadi teratur dengan baik dan Perdagangan juga dapat kita lihat dari produsen, konsumen dan cara interaksi keduanya dalam perdagangan. Hubungan antara produsen dan konsumen harus saling berkomunikasi dengan baik agar sistem perdagangan menjadi sempurna.

Dalam penelitian ansos yang dilakukan oleh alumnus LK.1 komisariat adab UIN IB PADANG dilakukan kepada bebeapa orang pedagang disekitaran pasar raya padang diantaranya kepada Pak Sofyan merupakan pedagang ikan yang sudah berumur 60 tahun, yang berasal dari Pesisir Selatan. Jenis ikan yang dijual oleh Pak Sofyan adalah Baledang dan Sala. Pak Sofyan sudah berjualan selama 10 tahun yang lalu sekita 2009 yang lalu. Penghasilan Pak Sofyan perharinya mencapai lebih kurang Rp. 500.000 dan itupun Pak Sofyan juga membayar sewa tempat ia berjualan sebanyak Rp. 15.000 perhari. Dan Pak Sofyan pun tidak selalu mendapatkan keuntungan yang banyak karena harga ikan segar cenderung murah disebabkan oleh pasokan dari nelayan yang meningkat secara normal.

Kemudian dilanjutkan lagi kepadab Pak Herman merupakan pedagang ayam yang berasal dari Pesisir Selatan. Pak Herman dulunya juga  berasal dari seorang peternak ayam, namun dengan berjalannya waktu Pak Herman memilih untuk tidak menjadi peternak ayam, ia lebih memutuskan menjadi pedagang ayam potong.

Pak Herman membeli ayam yang berada di Daerah Solok dan Pariaman. Pak Herman berangkat dari rumahnya menuju Pariaman dari pukul 04.00 Wib. Pak Herman membeli ayam setiap harinya sebanyak 20 keranjang ayam, yang setiap keranjangnya berisi 9 ekor, dalam bentuk ayam potong, ayam hidup, ceker, hati, empela, serta isi perut tersebut dijual kepada peternak lele. Adapun keuntungan yang diperoleh oleh Pak Herman sejumlah Rp. 450.00 – Rp. 500.000 perharinya. Pak Herman menjual 1 ekor ayam seharga RP. 40.000, dan keuntungan yang diperoleh Pak Herman sejumlah Rp. 3000, dan untuk ayam yang masih hidup itu untungnya Rp. 1000 – Rp. 2.000 per ekor.

Pada Hari Raya Idul Adha, penjualan ayam Pak Herman mengalami sedikit kerugian dikarenakan masayarakat lebih banyak membeli daging sapi  dari pada ayam potong, meskipun begitu paling sedikit keuntungan yang diperoleh Pak Herman hanya balik modal.

Dan juga kepada Pak Siis merupakan pedagang tribol yang berasal di Kota Padang, yang sudah berdagang selama kurang lebih 30 tahun dan sudah mengahadapi berbagai suka duka yang ia hadapi dalam menjalani kerasnya hidup yang memang harus menjadi perhatian oleh generasi muda bangsa untuk kesejahteraan pedagang. Pendapatan Pak Siis setiap harinya sebanyak Rp. 100.000 – Rp. 200.000 perharinya.

Pak Siis menjual tahu balok seharga  Rp. 1.000 dengan modal Rp. 800, dan Pak Siis menjual tempe bungkus seharga Rp. 6000 – Rp. 7.000, dan itupun Pak Siis kadang mengalami kerugian dikarenakan ekonomi merosot. Pak Siis melakukan usaha tribol sendiri dengan tekad yang kuat dan percaya diri Pak Siis bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan pekerjaan Pak Siis yang sekarang.

Kemudian dilanjutkan kepada Buk Ai merupakan pedagang buah yang berusia 45 tahun, yang berasal dari Simpang Haru, Buk Ai berdagang jeruk sudah 6 tahun yang lalu. Alasan Buk Ai berjualan buah-buahan berjenis jeruk karena dari segi modal dia merasa jeruk adalah termasuk buah-buahan menggunakan modal yang kecil. Buk Ai berangkat ke pasar pada pukul 06.00 dan pulang pukul 16.00. Ia membawa barang dagangannya dengan angkot dengan dibungkus menggunakan karung. Dan Buk Ai berjualan di depan gedung sayur yang bertepatan di samping pintu masuk gedung sayuran di pasar raya.
Buk Ai merupakan sosok ibu yang tangguh dan selalu bersemangat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya walau apapun itu keadaannnya karena Buk Ai yakin usaha yang Ia lakukan merupakan usaha yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Kepada Pak Jon merupakan seorang pedagang cabe yang berusia 65 tahun. yang bertempat tinggal di Teluk Bayur dan  telah lama juga berdagang cabe lebih kurang selama 15 tahun. Pak Jon dalam usahanya berdagang cabe beliau mengeluarkan modal sejumlah Rp15.000.000 dan Pak Jon mendapatkan keuntungan dalam perdagangannya menjual cabe itu sejumlah Rp3000.000  perhari. Pak Jon ini membeli dari buruh di Daerah Jambi satu kali dalam seminggu.

Pak jon berangkat dari jam 04:00 sampai dengan 16:40. Beliau merupakan pedagang sukses cabe yang bersal dari teluk bayur, yang dulunya beliau merupakan orang yang sangat susah hidupnya namun dengan kerja keras dan kemauannya untuk berdagang  dan berusaha dengan maksimal,pada akhirnya beliau menjadi salah satu pengusaha sukses cabe di daerah Kota Padang.

Post a Comment

0 Comments